PEKANBARU,DENTINGNEWS---- Kinerja perdagangan luar negeri Provinsi Riau sepanjang Januari hingga Mei 2026 masih menunjukkan tren positif. Nilai ekspor Riau mencapai US$8,60 miliar atau tumbuh 5,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Di sisi lain, nilai impor juga melonjak signifikan hingga 140,76 persen menjadi US$1,63 miliar.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau, Asep Riyadi, mengatakan peningkatan ekspor menunjukkan sektor industri pengolahan dan komoditas unggulan Riau masih memiliki daya saing di pasar internasional, meski pada Mei 2026 terjadi perlambatan dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya.
"Secara kumulatif Januari hingga Mei 2026, ekspor Riau masih tumbuh positif sebesar 5,58 persen. Hal ini didorong oleh peningkatan ekspor nonmigas yang naik 9,37 persen. Namun, secara bulanan pada Mei 2026 memang terjadi penurunan, terutama karena melemahnya ekspor migas," kata Asep Riyadi, Rabu (15/7/2026).
BPS mencatat nilai ekspor Riau pada Mei 2026 sebesar US$1,56 miliar atau turun 4,48 persen dibandingkan Mei 2025. Penurunan tersebut dipengaruhi ekspor migas yang anjlok 39,28 persen menjadi US$58,32 juta. Sementara itu, ekspor nonmigas tercatat sebesar US$1,50 miliar atau turun 2,31 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari kelompok komoditas nonmigas, lemak dan minyak hewan/nabati menjadi penyumbang kenaikan terbesar dengan peningkatan nilai ekspor mencapai US$559,66 juta atau tumbuh 13,54 persen. Sebaliknya, komoditas bubur kayu (pulp) mengalami penurunan terbesar, yakni sebesar US$109,38 juta atau turun 13,67 persen.
Berdasarkan negara tujuan, Tiongkok masih menjadi pasar utama ekspor nonmigas Riau dengan nilai mencapai US$1,55 miliar. Posisi berikutnya ditempati India sebesar US$694,01 juta dan Malaysia sebesar US$626,08 juta. Ketiga negara tersebut menyumbang sekitar 34,71 persen dari total ekspor nonmigas Riau selama lima bulan pertama tahun ini.
"Struktur ekspor Riau masih didominasi negara-negara mitra utama di kawasan Asia. Selain Tiongkok, India, dan Malaysia, kontribusi ekspor ke kawasan ASEAN maupun Uni Eropa juga masih cukup besar," ujar Asep.
Menurut sektor usaha, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan meningkat 9,78 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sebaliknya, ekspor sektor pertanian mengalami penurunan sebesar 11,08 persen.
Di sisi impor, BPS mencatat nilai impor Riau selama JanuariāMei 2026 mencapai US$1,63 miliar atau melonjak 140,76 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Peningkatan tersebut didorong impor nonmigas yang naik 147,12 persen menjadi US$1,56 miliar, sementara impor migas tumbuh 53,04 persen menjadi US$69,90 juta.
Khusus Mei 2026, nilai impor Riau mencapai US$550,41 juta atau meningkat 298,69 persen dibandingkan Mei tahun sebelumnya. Impor nonmigas tercatat sebesar US$544,32 juta atau melonjak 344,50 persen, sedangkan impor migas turun 60,95 persen menjadi US$6,09 juta.
Asep menjelaskan lonjakan impor terutama dipengaruhi masuknya barang modal, khususnya kelompok kapal terbang dan bagiannya.
"Kenaikan impor tahun ini terutama berasal dari barang modal. Komoditas kapal terbang dan bagiannya memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap peningkatan nilai impor Riau," jelasnya.
Data BPS menunjukkan komoditas kapal terbang dan bagiannya mengalami kenaikan impor tertinggi, yakni sebesar US$779,41 juta atau melonjak hingga 54.918,49 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sebaliknya, impor bahan baku bubur kayu (pulp) turun sebesar US$22,22 juta atau 27,95 persen.
Prancis menjadi negara asal impor nonmigas terbesar ke Riau dengan nilai US$781,91 juta atau berkontribusi 50,19 persen terhadap total impor nonmigas. Selanjutnya disusul Tiongkok sebesar US$170,99 juta dan Vietnam sebesar US$102,94 juta.
Dari sisi penggunaan barang, impor barang modal mencatat kenaikan paling tinggi, yakni 2.011,25 persen menjadi US$862,97 juta. Sementara impor bahan baku atau penolong meningkat 20,38 persen menjadi US$761,97 juta dan barang konsumsi naik 27,80 persen menjadi US$2,88 juta.
Secara nasional, neraca perdagangan Indonesia selama Januari hingga Mei 2026 masih mencatat surplus sebesar US$6,97 miliar, yang berasal dari surplus sektor nonmigas sebesar US$6,70 miliar dan sektor migas sebesar US$268,06 juta.(Aya.MCR)