Kanal

Nikmati Pasang Surut Perjalanan Karir Dan Bisnis

 

PEKANBARU,DENTINGNEWS--- H Dedi Damhudi Ap, M.Si kini menjabat sebagai Kepala Bidang PIKP atau  Pengelolaan Informasi dan Komunikasi Publik Diskominfo Kota Pekanbaru. 

Banyak jabatan yang sudah ditempati oleh Dedi selama meniti karir sebagai ASN. Pasang surut perjalanan karir pun sudah dilalui oleh Dedi. 

"Selaku ASN kita siap ditempatkan dimana saja dan jabatan itu adalah amanah. Kalau dipercaya, Alhamdulillah, kalau belum ya mungkin belum rezeki. Yang pasti tugas yang diberikan pimpinan dilakukan dengan maksimal, " ungkap Dedi. 

Dalam perjalanan karirnya, Dedi juga sudah pernah merasakan bagaimana ketika berada diatas atau  dihormatu orang. Begitupun rasa ketika ia dinonjobkan dari jabatan. 

"Sudah dua kali saya merasakan dinonjobkan, tapi kembali lagi jabatan adalah amanah. Manusiawi kalau merasa sedih dan kecewa namun kita tidak bisa berbuat apa selain menerima keputusan pimpinan, " tutur ayah 4 anak ini. 

Dedi menyebutkan sangsi non job yang diterima bukan karena ada kesalahan fatal yang dilakukan selaku ASN tapi lebih kepada dampak loyalitas yang selalu ditunjukkannya kepada pimpinan. Praktis begitu terjadi pergantian pimpinan, ia menjadi target untuk dipindahkan. 

"Sudah hukum alam begitu, tapi saya tidak menyesal untuk loyal kepada pimpinan. Karena memang kita harus loyal sebagai bawahan, " imbuh anak ke dua dari tiga bersaudara ini. 

Dedi menuturkan, sebelum menempati jabatan struktural dilingkungan Pemerintah Kota Pekanbaru, Dedi sempat mengabdi di beberapa Pemerintah Kabupaten lain. 

"Pertama kali diangkat sebagai ASN lepas pendidikan STPDN, saya berdinas di Kabupaten Simeulue Provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Cukup lama saya menjalani masa dinas disana sebelumnya akhirnya memutuskan pulang ke Riau karena  Gerakan Aceh  Merdeka masa itu sedang bergejolak, "tutur Dedi lagi. 

Selanjutnya Dedi mengabdi di Kabupaten Rokan Hulu, menduduki jabatan sebagai Kabag Pemerintahan Sekretariat Kabupaten Rokan Hulu. Karena karirnya mentok di jabatan yang sama selama kurang lebih 5 tahun, Dedi memutuskan pindah ke Pemerintah Kota Pekanbaru. 

Di lingkungan Pemko Pekanbaru, Dedi kembali memulai karier dari bawah sebagai staff sebelum akhirnya mendapatkan jabatan. Dedi kala itu sempat menempati posisi Sekretaris Dinas Pasar Kota Pekanbaru dan pernah juga dipercaya sebagai Sekretaris Camat Sukajadi. 

Sama halnya dengan tamatan STPDN lainnya yang memiliki mimpi besar untuk menjadi camat, saat itu Dedi juga menginginkan hal serupa. Karena tak kunjung mendapatkan kepercayaan menjadi Camat di Kota Pekanbaru, Dedi memilih menerima tawaran untuk menjadi Camat di Kecamatan Kampar Kiri Tengah Kabupaten Kampar. 

"Saat itu  ada ungkapan senior yang menyebutkan belum sah tamatan STPDN kalau belum menjadi camat walaupun bisa menempati posisi yang lebih tinggi dari camat. Karena itu saya menjadi termotivasi untuk menjadi camat dan akhirnya tercapai," ungkap Dedi yang menjabat camat Kampar Kiri Tengah selama 5 tahun. 

 

Menduduki posisi sebagai pemimpin wilayah kecamatan bagi Dedi ini merupakan waktu bagi dirinya mengimplementasikan ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan pamong. 
Dedi mengaku tidak memiliki banyak kesulitan berhadapan langsung dengan masyarakat karena sudah ada bekal dari STPDN. 

"Saking dekatnya hubungan emosional dengan masyarakat Kampar Kiri Tengah, saya mengajukan diri untuk pindah saja tidak diizinkan warga, tokoh masyarakat datang langsung ke Bupati meminta untuk tidak memindahkan saya, " ujar Dedi yang sampai saat ini masih menjalin komunikasi yang baik dengan masyarakat Kampar Kiri Tengah. 

Dedi menyatakan dari semua karir yang pernah ditempati, menjadi Camat adalah jabatan yang sangat berkesan. Karena ada kepuasan tersendiri ketika berhadapan dengan masyarakat apalagi saat bisa membantu menyelesaikan permasalahan yang ada ditengah masyarakat. 

Dilain sisi, selain menjalani profesi sebagai ASN, Dedi yang memiliki jiwa bisnis turunan dari sang ayah Alm H Ramli juga turut membuka usaha. 

Berbeda dengan sang ayah yang merupakan toke getah dan beras di daerah Kampar, Dedi memilih usah penyewaan kendaraan. 

Bermula dari juragan becak motor di Kabupaten Simeulue, Dedi yang seorang ASN juga tidak segan untuk menjadi penyewa mobil pick up guna membawa hasil panen petani ke kota. 

"Waktu pertama tugas di Simeulue, saya diberi uang oleh orang tua Rp 16 juta untuk membeli mobil. Karena selama di STPDN orang tua tidak pernah mengeluarkan biaya  pendidikan saya, jadi dijanjikan kalau sudah tamat akan dibelikan mobil. Tapi uang tersebut tidak saya belikan mobil, melainkan saya belikan becak motor 3 unit dan disewakan dengan setoran per becak 10 ribu per hari. Kemudian sisanya beli mobil pickup, " kenang Dedi. 

Usaha Dedi di Kabupaten Simeulue kian berkembang dan merambah ke jual beli cengkeh  yang merupakan hasil pertanian warga Simeulue. Dedi sempat mendapat keuntungan besar dari usaha cengkeh tersebut. 

Kemudian ketika pindah ke Pekanbaru lanjut dengan menjadi juragan mobil angkutan umum jurusan Pekanbaru-Bangkinang. Selanjutnya meningkat ke sewa mobil Colt Diessel bekerjasama dengan salah satu perusahaan besar di Pekanbaru.

Puncak kejayaan usaha Dedi adalah saat ia mendapat kerjasama penyewaan mobil tronton. 

"Saya sempat memiliki 12 unit tronton, namun berangsur-angsur berkurang terdampak covid-19, " pungkas Dedi yang kini hanya punya 4 unit tronton. 

Sukses menjalani bisnis sekaligus  menjadi ASN bagi Dedi adalah  pencapaian terbaik dalam hidupnya. Meskipun menurutnya menjadi pebisnis jauh lebih menyenangkan karena tidak ada beban. 

Kini seiring bertambahnya usia, Dedi tidak lagi memiliki ambisi yang lebih untuk jabatan atau juga usahanya. Karena ia percaya semua sudah digariskan oleh yang kuasa. (Eci)

Ikuti Terus Riaupower

BERITA TERKAIT

BERITA TERPOPULER