3 Kebiasaan Sehari-hari yang Bikin Otak Menciut, Jangan Anggap Remeh
Harga Emas Antam Hari Ini 26 Februari 2026 Lebih Mahal Rp 16.000
Pendapatan Daerah Tumbuh 62 Persen, APBD Riau Surplus
93 Persen Warga Jakarta Mageran, 4 Penyakit Berbahaya Ini Mengintai
3 Kebiasaan Sehari-hari yang Bikin Otak Menciut, Jangan Anggap Remeh
PEKANBARU,DENTINGNEWS----Seiring bertambahnya usia, otak manusia secara alami akan mengalami penyusutan atau dalam istilah medis disebut sebagai atrofi serebri. Meski merupakan proses alamiah, penurunan fungsi kognitif dan motorik ini ternyata bisa terjadi jauh lebih cepat akibat gaya hidup yang salah.
Spesialis Bedah Saraf, dr. Dimas Rahman Setiawan, SpBS, mengungkapkan bahwa kebiasaan sehari-hari yang sering dianggap remeh justru menjadi pemicu utama otak kehilangan volumenya lebih dini.
Berikut adalah tiga kebiasaan yang wajib Anda waspadai agar kesehatan otak tetap terjaga:
1. Pola Makan "Asal Kenyang"
Banyak orang Indonesia masih terjebak pada prinsip makan asalkan perut terasa penuh, tanpa memedulikan kandungan nutrisinya. dr. Dimas menyoroti dominasi karbohidrat (seperti nasi berlebih) yang sering kali tidak dibarengi dengan asupan protein yang cukup.
"Nutrisi yang baik adalah nutrisi yang seimbang. Di Indonesia, seringkali karbohidratnya terlalu banyak, sementara proteinnya kurang," ujar dr. Dimas, seperti dikutip Detik.
Tanpa asupan protein dan mikronutrisi yang seimbang, otak tidak mendapatkan "bahan bakar" yang diperlukan untuk regenerasi sel dan menjaga fungsinya tetap optimal.
2. Gaya Hidup 'Mager'
Kurang melakukan aktivitas fisik atau yang populer dengan istilah "mager" ternyata berdampak langsung pada otak. dr. Dimas menjelaskan bahwa olahraga bukan hanya soal membentuk otot, tapi juga membantu proses penyerapan nutrisi ke otak.
Saat tubuh aktif bergerak, sirkulasi darah meningkat, sehingga oksigen dan nutrisi dari makanan dapat terserap secara maksimal oleh saraf-saraf otak. Dengan aktif bergerak, risiko penciutan otak yang terlalu cepat dapat diminimalkan.
3. Berhenti Berpikir dan Menarik Diri dari Sosial
Faktor ini sering menyerang kelompok usia 40 hingga 50 tahun ke atas. Adanya anggapan bahwa "sudah tua tidak perlu banyak kegiatan" justru menjadi bumerang bagi kesehatan otak.
Otak ibarat otot; jika tidak dilatih dan digunakan, ia akan "menciut". dr. Dimas menekankan pentingnya memiliki aktivitas harian, baik itu bekerja, menjalankan hobi, maupun terlibat dalam kegiatan sosial.
"Tidak beraktivitas menyebabkan manusia tidak biasa berpikir, sehingga lama-kelamaan volume otaknya mulai mengecil," jelasnya.
Ia menyarankan agar masyarakat tetap aktif di lingkungan komunitas, seperti kegiatan keagamaan (pengajian atau gereja), organisasi kemasyarakatan (PKK atau Posyandu), dan menjalani hobi yang menuntut konsentrasi.
Menjaga kesehatan otak tidak harus dimulai dengan prosedur medis yang rumit. Dengan memperbaiki pola makan, rutin berolahraga, dan tetap aktif bersosialisasi, Anda bisa memberikan perlindungan terbaik bagi otak dari risiko penuaan dini.



.jpg)
.jpeg)


.jpg)
