• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
    • Pekanbaru
    • Kampar
    • Pelalawan
    • Siak
    • Bengkalis
    • Dumai
    • Rohul
    • Rohil
    • Inhu
    • Inhil
    • Kuansing
    • Meranti
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Kuliner
  • Sosok
  • More
    • Video
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
PILIHAN +INDEKS
Pemko Pekanbaru Janji Beri Keringanan Untuk Pedagang Eks Pemegang HGB Ruko STC
Dibaca : 35 Kali
Wamenkes RI Kunjungi Riau, Perkuat Gerakan Bersama Percepatan Eliminasi Tuberkulosis
Dibaca : 38 Kali
Korban Gigitan Monyet Liar di Tembilahan Bertambah Jadi 15 Orang
Dibaca : 36 Kali
Delegasi GCMC IMT-GT ke-9 Mulai Berdatangan ke Kota Pekanbaru
Dibaca : 21 Kali
Pemko Pekanbaru Siapkan Seragam Gratis untuk 20.800 Siswa SD dan SMP
Dibaca : 22 Kali

  • Home
  • Gaya Hidup

Bau hingga Frekuensi Kentut Bisa Ungkap Kondisi Kesehatan Usus

Redaksi

Jumat, 06 Februari 2026 16:58:40 WIB
Cetak
Bau hingga Frekuensi Kentut Bisa Ungkap Kondisi Kesehatan Usus
Ilustrasi. Kentut bisa mencerminkan kesehatan tubuh dan usus. (Getty Images/iStockphoto/RealPeopleGroup)

PEKANBARU,DENTINGNEWS----Kentut kerap dianggap memalukan, bahan candaan, atau sesuatu yang sebaiknya disembunyikan rapat-rapat. Seiring bertambahnya usia, banyak orang berhenti menertawakannya, tapi rasa malu itu tetap ada, terutama jika kentut datang terlalu sering, berisik, atau berbau menyengat.

Padahal, kentut adalah proses tubuh yang sepenuhnya normal. Hampir 100 persen manusia mengalaminya. Lebih dari itu, pola kentut, mulai dari bau, bunyi, frekuensi, hingga sensasi di perut bisa memberi petunjuk penting tentang kondisi kesehatan usus dan pencernaan.

Dengan memahami apa yang tergolong normal, Anda bisa lebih peka saat tubuh mulai memberi sinyal ada yang tidak beres.

 Berikut apa yang tubuh coba sampaikan melalui kentut, melansir EatingWell.

1. Kentut bau ini yang disampaikan tubuh
Pernah bertanya-tanya mengapa sebagian kentut nyaris tak tercium, sementara yang lain begitu menyengat? Menurut ahli gizi dan peneliti pencernaan Shy Vishnumohan, sebagian besar gas sebenarnya tidak berbau.

Aroma muncul dari senyawa sulfur dalam jumlah kecil yang dihasilkan selama proses pencernaan.

Saat bakteri usus memfermentasi makanan yang Anda konsumsi, gas dilepaskan sebagai produk sampingan. Bau kentut bisa bervariasi, tergantung jenis makanan dan komposisi bakteri di saluran cerna.

Perubahan bau sesekali masih tergolong wajar. Namun, jika aroma tidak biasa muncul terus-menerus, apalagi disertai kembung, sembelit, atau diare, ini bisa menandakan gangguan pencernaan atau ketidakseimbangan mikrobiota usus.

Ahli gizi Ava Safir menyebut bau yang kuat dan menetap dapat mengarah pada malabsorpsi karbohidrat, pertumbuhan bakteri berlebih di usus halus (SIBO), atau masalah pencernaan lain yang perlu diperiksa tenaga medis.

2. Bunyi kentut
Soal bunyi, kabar baiknya kentut yang keras atau nyaris tak terdengar tidak berkaitan langsung dengan kesehatan usus. Bunyi kentut lebih bersifat mekanis, dipengaruhi jumlah gas, kecepatan keluarnya, serta kondisi otot yang dilewatinya.

Meski begitu, beberapa kondisi seperti sembelit, ketegangan otot dasar panggul, atau wasir dapat memengaruhi cara gas keluar dan membuat bunyinya lebih sulit dikendalikan. Namun, selama tidak disertai nyeri atau keluhan lain, bunyi kentut bukan hal yang perlu dikhawatirkan.

Seberapa sering kentut masih normal?
Kentut beberapa kali sehari hingga sekitar 20 kali masih dianggap normal. Perbedaan frekuensi dari hari ke hari biasanya sangat dipengaruhi oleh makanan.

Konsumsi karbohidrat yang mudah difermentasi, seperti kacang-kacangan, makanan tinggi FODMAP, gula alkohol, atau intoleransi laktosa dan fruktosa, sering membuat produksi gas meningkat.

Jika Anda baru meningkatkan asupan serat, jangan panik. Peningkatan gas umumnya bersifat sementara. Penelitian menunjukkan, dalam dua hingga enam minggu, frekuensi kentut biasanya kembali normal seiring adaptasi tubuh.

Namun, gas berlebihan yang menetap dan disertai diare atau penurunan berat badan tanpa sebab jelas sebaiknya segera dikonsultasikan ke tenaga kesehatan.

Sensasi di perut juga penting
Rasa di perut sebelum atau sesudah kentut juga menyimpan petunjuk. Sedikit tidak nyaman masih tergolong normal. Namun, nyeri hebat, kram berkepanjangan, atau sensasi gas seperti 'terjebak' bisa menandakan pencernaan yang melambat, sembelit, sensitivitas usus berlebih, atau kesulitan mencerna jenis karbohidrat tertentu.

Mendengarkan sinyal tubuh, termasuk hal-hal yang sering dianggap sepele seperti kentut, dapat membantu Anda mengenali kondisi pencernaan lebih dini. Jadi, alih-alih sekadar merasa malu, mungkin sudah waktunya memberi sedikit perhatian pada apa yang coba disampaikan tubuh melalui gas yang keluar.

 


Sumber : https://www.cnnindonesia /  Editor : eci

[Ikuti Dentingnews.com


Dentingnews.com

BERITA LAINNYA +INDEKS
Gaya Hidup

Punya Penis Terkecil Sedunia, Pria AS Ini Buka Donasi untuk Operasi

Ahad, 28 Juni 2026 - 08:02:07 WIB

PEKANBARU,DENTINGNEWS-.

Gaya Hidup

Penumpang Kapal Pesiar Nekat Lompat ke Laut Selamatkan Kakek Tenggelam

Sabtu, 06 Juni 2026 - 16:22:48 WIB

PEKANBARU,DENTINGNEWS.

Gaya Hidup

8 Barang Wajib di Tas Jamaah Haji saat Cuaca Ekstrem

Sabtu, 16 Mei 2026 - 16:00:00 WIB

PEKANBARU,DENTINGNEWS.

Gaya Hidup

Ini Bagian Ka'bah yang Memiliki Keutamaan saat Disentuh

Rabu, 13 Mei 2026 - 15:30:00 WIB

PEKANBARU,DENTINGNEWS-.

Gaya Hidup

Simak Cara Cek Visa Haji 2026 Online Sebelum Berangkat ke Tanah Suci

Selasa, 21 April 2026 - 12:00:00 WIB

PEKANBARU,DENTINGNEWS.

Gaya Hidup

Makin Tua Kenapa Makin Susah Tidur?

Sabtu, 18 April 2026 - 18:57:49 WIB

PEKANBARU,DENTINGNEWS-.

TULIS KOMENTAR +INDEKS


Terkini +INDEKS
Pemko Pekanbaru Janji Beri Keringanan Untuk Pedagang Eks Pemegang HGB Ruko STC
04 Agustus 2026
Wamenkes RI Kunjungi Riau, Perkuat Gerakan Bersama Percepatan Eliminasi Tuberkulosis
04 Agustus 2026
Korban Gigitan Monyet Liar di Tembilahan Bertambah Jadi 15 Orang
04 Agustus 2026
Delegasi GCMC IMT-GT ke-9 Mulai Berdatangan ke Kota Pekanbaru
04 Agustus 2026
Pemko Pekanbaru Siapkan Seragam Gratis untuk 20.800 Siswa SD dan SMP
04 Agustus 2026
Pemprov Buka Pendaftaran Beasiswa Riau Cerdas Lanjutan 2026
04 Agustus 2026
Pengukuhan 202 Ketua RT/RW dan 310 Ketua Dasa Wisma Perkuat Kelembagaan Masyarakat Tenayan Raya
04 Agustus 2026
Berjuang 34 Hari Lawan Sakit, Gajah Binaan BBKSDA Riau Jovi Meninggal Dunia
04 Agustus 2026
Nilai Tukar Petani Riau Naik Jadi 194,29 pada Juli 2026, Tertinggi Kedua di Sumatera
04 Agustus 2026
Karhutla di Riau: Sumber Air Menipis, Manggala Agni Harus Pindahkan Pompa Tiap 30 Menit
03 Agustus 2026
TERPOPULER +INDEKS
  • 1 Temui Wapres Gibran, Bupati Siak Perjuangkan Hak DBH bagi Daerah Penghasil SDA
  • 2 Pemprov Riau-Komnas HAM Bahas Sengketa Lahan Rohul dan Kampar
  • 3 Pekanbaru Jadi Ketua Jaringan IMT-GT, Konsep Green City Makin Diperkuat
  • 4 Dampingi UAS, Kapolda dan Pangdam Touring, Bupati Afni Kenalkan Sejarah dan Keindahan Siak
  • 5 Bupati Afni Lantik Pengurus KTNA, Serahkan Bantuan Alsintan Hampir Rp15 Miliar
  • 6 Hasil Seleksi Pemenuhan Kuota SMP Negeri Pekanbaru Diumumkan, Daftar Ulang Dimulai 6 Juli
  • 7 Harga Emas Hari Ini Terpantau Stabil

Ikuti Kami

Tentang Kami
Redaksi
Pedoman Pemberitaan
Info Iklan
Kontak
Disclaimer

DentingNews.com ©2021 | All Right Reserved