• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
    • Pekanbaru
    • Kampar
    • Pelalawan
    • Siak
    • Bengkalis
    • Dumai
    • Rohul
    • Rohil
    • Inhu
    • Inhil
    • Kuansing
    • Meranti
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Kuliner
  • Sosok
  • More
    • Video
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
PILIHAN +INDEKS
Bau hingga Frekuensi Kentut Bisa Ungkap Kondisi Kesehatan Usus
Dibaca : 16 Kali
KPK: Pejabat Bea Cukai Terima Rp7 Miliar per Bulan Loloskan Barang KW
Dibaca : 15 Kali
HUT ke-76 Kampar, Sekdaprov Riau Ajak Perkuat Kolaborasi Pembangunan
Dibaca : 13 Kali
Kontribusi PDRB Riau Tembus Rp1.201 Triliun, Terbesar Kedua di Sumatra
Dibaca : 12 Kali
Tahun Ini Ditargetkan 44.700 Ternak di Riau Akan di Vaksin PMK
Dibaca : 11 Kali

  • Home
  • Gaya Hidup

Bau hingga Frekuensi Kentut Bisa Ungkap Kondisi Kesehatan Usus

Redaksi

Jumat, 06 Februari 2026 16:58:40 WIB
Cetak
Bau hingga Frekuensi Kentut Bisa Ungkap Kondisi Kesehatan Usus
Ilustrasi. Kentut bisa mencerminkan kesehatan tubuh dan usus. (Getty Images/iStockphoto/RealPeopleGroup)

PEKANBARU,DENTINGNEWS----Kentut kerap dianggap memalukan, bahan candaan, atau sesuatu yang sebaiknya disembunyikan rapat-rapat. Seiring bertambahnya usia, banyak orang berhenti menertawakannya, tapi rasa malu itu tetap ada, terutama jika kentut datang terlalu sering, berisik, atau berbau menyengat.

Padahal, kentut adalah proses tubuh yang sepenuhnya normal. Hampir 100 persen manusia mengalaminya. Lebih dari itu, pola kentut, mulai dari bau, bunyi, frekuensi, hingga sensasi di perut bisa memberi petunjuk penting tentang kondisi kesehatan usus dan pencernaan.

Dengan memahami apa yang tergolong normal, Anda bisa lebih peka saat tubuh mulai memberi sinyal ada yang tidak beres.

 Berikut apa yang tubuh coba sampaikan melalui kentut, melansir EatingWell.

1. Kentut bau ini yang disampaikan tubuh
Pernah bertanya-tanya mengapa sebagian kentut nyaris tak tercium, sementara yang lain begitu menyengat? Menurut ahli gizi dan peneliti pencernaan Shy Vishnumohan, sebagian besar gas sebenarnya tidak berbau.

Aroma muncul dari senyawa sulfur dalam jumlah kecil yang dihasilkan selama proses pencernaan.

Saat bakteri usus memfermentasi makanan yang Anda konsumsi, gas dilepaskan sebagai produk sampingan. Bau kentut bisa bervariasi, tergantung jenis makanan dan komposisi bakteri di saluran cerna.

Perubahan bau sesekali masih tergolong wajar. Namun, jika aroma tidak biasa muncul terus-menerus, apalagi disertai kembung, sembelit, atau diare, ini bisa menandakan gangguan pencernaan atau ketidakseimbangan mikrobiota usus.

Ahli gizi Ava Safir menyebut bau yang kuat dan menetap dapat mengarah pada malabsorpsi karbohidrat, pertumbuhan bakteri berlebih di usus halus (SIBO), atau masalah pencernaan lain yang perlu diperiksa tenaga medis.

2. Bunyi kentut
Soal bunyi, kabar baiknya kentut yang keras atau nyaris tak terdengar tidak berkaitan langsung dengan kesehatan usus. Bunyi kentut lebih bersifat mekanis, dipengaruhi jumlah gas, kecepatan keluarnya, serta kondisi otot yang dilewatinya.

Meski begitu, beberapa kondisi seperti sembelit, ketegangan otot dasar panggul, atau wasir dapat memengaruhi cara gas keluar dan membuat bunyinya lebih sulit dikendalikan. Namun, selama tidak disertai nyeri atau keluhan lain, bunyi kentut bukan hal yang perlu dikhawatirkan.

Seberapa sering kentut masih normal?
Kentut beberapa kali sehari hingga sekitar 20 kali masih dianggap normal. Perbedaan frekuensi dari hari ke hari biasanya sangat dipengaruhi oleh makanan.

Konsumsi karbohidrat yang mudah difermentasi, seperti kacang-kacangan, makanan tinggi FODMAP, gula alkohol, atau intoleransi laktosa dan fruktosa, sering membuat produksi gas meningkat.

Jika Anda baru meningkatkan asupan serat, jangan panik. Peningkatan gas umumnya bersifat sementara. Penelitian menunjukkan, dalam dua hingga enam minggu, frekuensi kentut biasanya kembali normal seiring adaptasi tubuh.

Namun, gas berlebihan yang menetap dan disertai diare atau penurunan berat badan tanpa sebab jelas sebaiknya segera dikonsultasikan ke tenaga kesehatan.

Sensasi di perut juga penting
Rasa di perut sebelum atau sesudah kentut juga menyimpan petunjuk. Sedikit tidak nyaman masih tergolong normal. Namun, nyeri hebat, kram berkepanjangan, atau sensasi gas seperti 'terjebak' bisa menandakan pencernaan yang melambat, sembelit, sensitivitas usus berlebih, atau kesulitan mencerna jenis karbohidrat tertentu.

Mendengarkan sinyal tubuh, termasuk hal-hal yang sering dianggap sepele seperti kentut, dapat membantu Anda mengenali kondisi pencernaan lebih dini. Jadi, alih-alih sekadar merasa malu, mungkin sudah waktunya memberi sedikit perhatian pada apa yang coba disampaikan tubuh melalui gas yang keluar.

 


Sumber : https://www.cnnindonesia /  Editor : eci

[Ikuti Dentingnews.com


Dentingnews.com

BERITA LAINNYA +INDEKS
Gaya Hidup

Ikan Patin vs Ikan Lele: Mana yang Lebih Aman?

Sabtu, 31 Januari 2026 - 15:12:02 WIB

PEKANBARU,DENTINGNEWS.

Gaya Hidup

7 Kebiasaan Ini Jadi Penyebab Payudara Kendur, Patut Diperbaiki

Jumat, 30 Januari 2026 - 14:11:35 WIB

PEKANBARU,DENTINGNEWS--.

Gaya Hidup

7 Hal Ini Bisa Terjadi Jika Berhubungan Seks saat Haid

Rabu, 28 Januari 2026 - 15:07:08 WIB

PEKANBARU,DENTINGNEWS.

Gaya Hidup

7 Penyebab Kaki Sering Kesemutan yang Perlu Diwaspadai

Rabu, 21 Januari 2026 - 18:30:19 WIB

PEKANBARU,DENTINGNEWS--.

Gaya Hidup

Tak Semua Aman, 5 Kelompok Orang Ini Dianjurkan Tak Minum Air Kelapa

Sabtu, 03 Januari 2026 - 11:13:13 WIB

PEKANBARU,DENTINGNEWS-.

Gaya Hidup

Awas, Pakai Baju Ini di Bandara Bisa Bikin Pemeriksaan Makin Rumit

Ahad, 28 Desember 2025 - 20:34:22 WIB

PEKANBARU,DENTINGNEWS-.

TULIS KOMENTAR +INDEKS


Terkini +INDEKS
Bau hingga Frekuensi Kentut Bisa Ungkap Kondisi Kesehatan Usus
06 Februari 2026
KPK: Pejabat Bea Cukai Terima Rp7 Miliar per Bulan Loloskan Barang KW
06 Februari 2026
HUT ke-76 Kampar, Sekdaprov Riau Ajak Perkuat Kolaborasi Pembangunan
06 Februari 2026
Kontribusi PDRB Riau Tembus Rp1.201 Triliun, Terbesar Kedua di Sumatra
06 Februari 2026
Tahun Ini Ditargetkan 44.700 Ternak di Riau Akan di Vaksin PMK
06 Februari 2026
Harga Emas Antam Hari Ini 6 Februari 2026 Anjlok Rp 100.000
06 Februari 2026
Gajah Sumatra Mati Mengenaskan di Areal Konsesi, Bagian Kepala Hilang
05 Februari 2026
Tindak Lanjut Arahan Presiden, Plt Gubri Surati Pemda se-Riau Soal Sampah
05 Februari 2026
Pemprov Riau Rampungkan Evaluasi APBD Pekanbaru 2026
05 Februari 2026
Wali Kota Hadiri Musrenbang di Rumbai Timur, Serap Aspirasi Warga
05 Februari 2026
TERPOPULER +INDEKS
  • 1 Ketum MKA LAMR Siak Wafat, Bupati Afni Sampaikan Duka Mendalam
  • 2 Pemko Pekanbaru Akan Gelar Petang Megang H-1 Sebelum Puasa
  • 3 Bupati Afni Ajak Ribuan Peserta Silatda NU Doakan Korban Tangsi Belanda
  • 4 Tangsi Belanda di Siak Ambruk, 16 Orang Jadi Korban
  • 5 Harga Emas Batangan 24 Karat Hari Ini 30 Januari 2026: Harga Emas Antam Amblas
  • 6 Terbitkan SK Pembelajaran Selama Bulan Puasa, Disdik Pekanbaru Tetapkan Libur Awal Puasa Mulai 16 Februari
  • 7 Dukung Dunia Pendidikan,The Gade Creative Lounge Pegadaian ke-24 Diresmikan di Universitas Riau

Ikuti Kami

Tentang Kami
Redaksi
Pedoman Pemberitaan
Info Iklan
Kontak
Disclaimer

DentingNews.com ©2021 | All Right Reserved