• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
    • Pekanbaru
    • Kampar
    • Pelalawan
    • Siak
    • Bengkalis
    • Dumai
    • Rohul
    • Rohil
    • Inhu
    • Inhil
    • Kuansing
    • Meranti
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Kuliner
  • Sosok
  • More
    • Video
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
PILIHAN +INDEKS
Gempur Karhutla, 6 Helikopter Sudah Stanby di Riau
Dibaca : 24 Kali
Wujudkan Misi Ekologi, Pemkab Siak Gandeng Pemerintah Swiss, UNDP dan Mitra Pembangunan
Dibaca : 37 Kali
Pemkab Siak Gandeng Ngo Perkuat Kapasitas Hukum Penghulu Kampung Hadapi Konflik Agraria Dan Lingkungan Hidup
Dibaca : 31 Kali
SPMB SMA dan SMK Negeri di Provinsi Riau Resmi Ditutup, Tercatat 79.350 Pendaftar
Dibaca : 23 Kali
PT BSP Gelar RUPS Tahunan dan RUPS Luar Biasa, Tetapkan Direktur Baru untuk Perkuat Kinerja
Dibaca : 69 Kali

  • Home
  • Gaya Hidup

Bau hingga Frekuensi Kentut Bisa Ungkap Kondisi Kesehatan Usus

Redaksi

Jumat, 06 Februari 2026 16:58:40 WIB
Cetak
Bau hingga Frekuensi Kentut Bisa Ungkap Kondisi Kesehatan Usus
Ilustrasi. Kentut bisa mencerminkan kesehatan tubuh dan usus. (Getty Images/iStockphoto/RealPeopleGroup)

PEKANBARU,DENTINGNEWS----Kentut kerap dianggap memalukan, bahan candaan, atau sesuatu yang sebaiknya disembunyikan rapat-rapat. Seiring bertambahnya usia, banyak orang berhenti menertawakannya, tapi rasa malu itu tetap ada, terutama jika kentut datang terlalu sering, berisik, atau berbau menyengat.

Padahal, kentut adalah proses tubuh yang sepenuhnya normal. Hampir 100 persen manusia mengalaminya. Lebih dari itu, pola kentut, mulai dari bau, bunyi, frekuensi, hingga sensasi di perut bisa memberi petunjuk penting tentang kondisi kesehatan usus dan pencernaan.

Dengan memahami apa yang tergolong normal, Anda bisa lebih peka saat tubuh mulai memberi sinyal ada yang tidak beres.

 Berikut apa yang tubuh coba sampaikan melalui kentut, melansir EatingWell.

1. Kentut bau ini yang disampaikan tubuh
Pernah bertanya-tanya mengapa sebagian kentut nyaris tak tercium, sementara yang lain begitu menyengat? Menurut ahli gizi dan peneliti pencernaan Shy Vishnumohan, sebagian besar gas sebenarnya tidak berbau.

Aroma muncul dari senyawa sulfur dalam jumlah kecil yang dihasilkan selama proses pencernaan.

Saat bakteri usus memfermentasi makanan yang Anda konsumsi, gas dilepaskan sebagai produk sampingan. Bau kentut bisa bervariasi, tergantung jenis makanan dan komposisi bakteri di saluran cerna.

Perubahan bau sesekali masih tergolong wajar. Namun, jika aroma tidak biasa muncul terus-menerus, apalagi disertai kembung, sembelit, atau diare, ini bisa menandakan gangguan pencernaan atau ketidakseimbangan mikrobiota usus.

Ahli gizi Ava Safir menyebut bau yang kuat dan menetap dapat mengarah pada malabsorpsi karbohidrat, pertumbuhan bakteri berlebih di usus halus (SIBO), atau masalah pencernaan lain yang perlu diperiksa tenaga medis.

2. Bunyi kentut
Soal bunyi, kabar baiknya kentut yang keras atau nyaris tak terdengar tidak berkaitan langsung dengan kesehatan usus. Bunyi kentut lebih bersifat mekanis, dipengaruhi jumlah gas, kecepatan keluarnya, serta kondisi otot yang dilewatinya.

Meski begitu, beberapa kondisi seperti sembelit, ketegangan otot dasar panggul, atau wasir dapat memengaruhi cara gas keluar dan membuat bunyinya lebih sulit dikendalikan. Namun, selama tidak disertai nyeri atau keluhan lain, bunyi kentut bukan hal yang perlu dikhawatirkan.

Seberapa sering kentut masih normal?
Kentut beberapa kali sehari hingga sekitar 20 kali masih dianggap normal. Perbedaan frekuensi dari hari ke hari biasanya sangat dipengaruhi oleh makanan.

Konsumsi karbohidrat yang mudah difermentasi, seperti kacang-kacangan, makanan tinggi FODMAP, gula alkohol, atau intoleransi laktosa dan fruktosa, sering membuat produksi gas meningkat.

Jika Anda baru meningkatkan asupan serat, jangan panik. Peningkatan gas umumnya bersifat sementara. Penelitian menunjukkan, dalam dua hingga enam minggu, frekuensi kentut biasanya kembali normal seiring adaptasi tubuh.

Namun, gas berlebihan yang menetap dan disertai diare atau penurunan berat badan tanpa sebab jelas sebaiknya segera dikonsultasikan ke tenaga kesehatan.

Sensasi di perut juga penting
Rasa di perut sebelum atau sesudah kentut juga menyimpan petunjuk. Sedikit tidak nyaman masih tergolong normal. Namun, nyeri hebat, kram berkepanjangan, atau sensasi gas seperti 'terjebak' bisa menandakan pencernaan yang melambat, sembelit, sensitivitas usus berlebih, atau kesulitan mencerna jenis karbohidrat tertentu.

Mendengarkan sinyal tubuh, termasuk hal-hal yang sering dianggap sepele seperti kentut, dapat membantu Anda mengenali kondisi pencernaan lebih dini. Jadi, alih-alih sekadar merasa malu, mungkin sudah waktunya memberi sedikit perhatian pada apa yang coba disampaikan tubuh melalui gas yang keluar.

 


Sumber : https://www.cnnindonesia /  Editor : eci

[Ikuti Dentingnews.com


Dentingnews.com

BERITA LAINNYA +INDEKS
Gaya Hidup

Penumpang Kapal Pesiar Nekat Lompat ke Laut Selamatkan Kakek Tenggelam

Sabtu, 06 Juni 2026 - 16:22:48 WIB

PEKANBARU,DENTINGNEWS.

Gaya Hidup

8 Barang Wajib di Tas Jamaah Haji saat Cuaca Ekstrem

Sabtu, 16 Mei 2026 - 16:00:00 WIB

PEKANBARU,DENTINGNEWS.

Gaya Hidup

Ini Bagian Ka'bah yang Memiliki Keutamaan saat Disentuh

Rabu, 13 Mei 2026 - 15:30:00 WIB

PEKANBARU,DENTINGNEWS-.

Gaya Hidup

Simak Cara Cek Visa Haji 2026 Online Sebelum Berangkat ke Tanah Suci

Selasa, 21 April 2026 - 12:00:00 WIB

PEKANBARU,DENTINGNEWS.

Gaya Hidup

Makin Tua Kenapa Makin Susah Tidur?

Sabtu, 18 April 2026 - 18:57:49 WIB

PEKANBARU,DENTINGNEWS-.

Gaya Hidup

Apa Saja Ciri Orang Ber-IQ Rendah? Kenali 7 Tanda Khas Ini

Jumat, 03 April 2026 - 16:07:36 WIB

PEKANBARU,DENTINGNEWS.

TULIS KOMENTAR +INDEKS


Terkini +INDEKS
Gempur Karhutla, 6 Helikopter Sudah Stanby di Riau
20 Juni 2026
Wujudkan Misi Ekologi, Pemkab Siak Gandeng Pemerintah Swiss, UNDP dan Mitra Pembangunan
20 Juni 2026
Pemkab Siak Gandeng Ngo Perkuat Kapasitas Hukum Penghulu Kampung Hadapi Konflik Agraria Dan Lingkungan Hidup
20 Juni 2026
SPMB SMA dan SMK Negeri di Provinsi Riau Resmi Ditutup, Tercatat 79.350 Pendaftar
19 Juni 2026
PT BSP Gelar RUPS Tahunan dan RUPS Luar Biasa, Tetapkan Direktur Baru untuk Perkuat Kinerja
19 Juni 2026
Wako Agung Dampingi Andre Rosiade Tinjau SPPG di Pekanbaru
19 Juni 2026
SPMB SMP dan SD Negeri di Pekanbaru Segera Dimulai
19 Juni 2026
Pelaku Karhutla di Bengkalis Diamankan Polisi
19 Juni 2026
Siak Pertahankan WTP 15 Kali Berturut-turut, Bupati Afni: Jangan Berpuas Diri
18 Juni 2026
Walikota Apresiasi Kinerja 30 LPS Terbaik di Kota Pekanbaru
18 Juni 2026
TERPOPULER +INDEKS
  • 1 Harga Emas Pegadaian Hari Ini 14 Juni 2026: Antam Naik, UBS dan Galeri24 Stabil
  • 2 Pasokan dan Harga Minyakita di Pasaran Stabil
  • 3 Jemaah Haji Siak Kloter BTH 12 Tiba di Arafah, Siap Jalani Puncak Ibadah Haji
  • 4 Plt Gubri SF Hariyanto Lantik 238 Pejabat Eselon III dan IV Pemprov Riau
  • 5 Industri Penjaminan Dinilai Jadi Kunci Penguatan Pembiayaan dan Ketahanan Ekonomi Nasional
  • 6 Simak Harga Emas 24 Karat Hari Ini 19 Mei 2026
  • 7 Harga Emas Antam Hari Ini 14 Mei 2026 Stabil

Ikuti Kami

Tentang Kami
Redaksi
Pedoman Pemberitaan
Info Iklan
Kontak
Disclaimer

DentingNews.com ©2021 | All Right Reserved